Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Wednesday, 20 May 2009

Beat the recession - franchise business model

Nick Strong

Throughtout this time of economic downturn many people are trying to consider how to beat the recession both in their personal lives and in business. Equifax, a UK organisation that looks after credit references, recently put out a survey that asked participants to indicate their expected income for 2009. Interestingly over 35% stated that they believed their income would fall during 2009. This is not without good reason. People in manufacturing did not expect to get overtime and other participants feared that their company would fail.

Options to consider

Some may decide to bide their time and trust that their jobs will be safe, others are taking their own intiative via researching self employment through franchise business development.

Indeed the UK econmic outlook is down but that is not across all business sectors. Many businesses are advancing during the downturn. These successful concepts offer important and much needed services better and more cost effectively than the competition. Value for money combined with quality are the driving factors now more than ever before.

Making the best choices with a recession beating franchise

As the UK sees sales growth the recession will gradually start to ease. Over recent years franchise growth has been over five times greater than that of the UK economy. This is a promising trend for all working in the franchise industry from the franchisor themselves right through to the end customer. So what do you look for when researching a franchise system?

* Taking on a franchise is a long term investment. Fads never work in long term business development.
* What services are in demand now, during the recession?
* Research the brands and see which ones are growing both historically and at present during the current downturn?

Identifying these points helps you, the franchise buyer to determine what franchise to work with. It is easy to research which franchise systems are productive during the current downturn. Make contact with your chosen franchisor, arrange to meet the franchisor and then speak to their franchisees.

The franchisees will tell you how they have performed historically and during the recession. They will also tell you how innovative the franchise brand owner has been in supporting them effectively though the current economic downturn. Seek out the franchise systems that have and are still growing and focus your attention on those for your future.

Beating the downturn is about an increase in sales, job creation and ultimately confidence. Franchise business is strong as it is built on proven best practise, brand, service and recognition. Over 90% of franchisees trade profitably according to the Nat West/British Franchise Association National Franchise survey.

If you are looking for a way to beat the recession and take hold of your own future via the proven franchise business model then now could be the perfect time to do it.

Prinsip Praktis Menyiapkan Dana Pensiun

M. Ichsan

Kebutuhan menjalani masa pensiun kami yakini sangat besar. Karena sumber pendapatan yang kita harapkan datangnya dari asset-aset yang bekerja untuk kita. Namun, mungkin karena tidak tahu atau takut, banyak masyarakat yang tidak mempersiapkannya.

Dalam kesempatan ini kami ingin berbagi tiga temuan kami berkaitan dengan investasi yang bisa memberikan keuntungan buat kita dalam mempersiapkan kebutuhan dana pensiun sehingga dapat berjalan dengan nyaman dan tenteram.

Mengumpulkan dana besar tidak harus dimulai dengan dana yang besar pula
Kebanyakan masyarakat ingin memulai sesuatu dengan jumlah yang besar. Mereka merasa bahwa dengan dana sedikit yang disisihkan setiap bulan akan memakan banyak waktu dan sulit untuk dapat mengumpulkan dana yang Anda inginkan.

Sekarang kita ambil contoh di mana Anda ingin mengumpulkan dana untuk masa pensiun Anda. Saat ini Anda hanya bisa menyisihkan Rp6 juta setiap tahunnya atau sekitar Rp115 ribu setiap minggu. Asumsi bunga konservatif yang dipakai dalam jangka panjang adalah 12 persen.

Bila Anda memulainya sekarang dengan alokasi dana setiap minggu sebesar Rp115 ribu, dalam jangka waktu 30 tahun, jumlah dana yang Anda kumpulkan mendekati Rp1,8 miliar atau Rp1.766.430.000.

Bila Anda saat ini masih cukup muda, diusia 21 tahun saat ini dan mulai menyisihkan dana sebesar Rp115 ribu setiap minggu selama 50 tahun maka dana Anda akan berkembang mendekati Rp20 miliar atau lebih tepatnya Rp19.915.878.000. Bukan main, kan?
Jelas sekali bahwa tidak harus dengan dana besar untuk mengumpulkan dana dalam jumlah besar. Akan tetapi yang lebih dibutuhkan adalah disiplin diri untuk melakukan penyisihan dana secara reguler selama waktu yang dibutuhkan.

Bila Anda bertanya, bagaimana dengan dampak inflasi terhadap dana yang sudah Anda kumpulkan selama 50 tahun? Yang perlu juga diperhatikan bahwa gaji Anda akan selalu meningkat—dengan begitu Anda dapat meningkatkan kontribusi Anda untuk tujuan dana pensiun, lebih besar dari hanya Rp115 ribu setiap minggunya.

Waktu adalah sahabat Anda
Sebagai contoh kami mengambil cerita keluarga Andi, di mana Anita sudah memulai untuk menyisihkan secara regular setiap bulannya untuk tujuan masa pensiun mereka disaat mereka baru memasuki jenjang pernikahan. Usia Andi saat itu 28 tahun danAnita 24 tahun. Anita berencana untuk menyiapkannya sampai usianya memasuki 60 tahun atau Anita memiliki waktu sekitar 36 tahun. Dengan menyisihkan secara reguler setiap bulannya sebesar Rp1 juta dengan asumsi bunga yang diambil 12 persen per tahun, maka rencana Anita dalam 36 tahun akan memiliki aset sejumlah hampir mencapai Rp7,3 miliar atau tepatnya sebesar Rp7.259.250.000
Sedangkan Andi, merasa bahwa ia masih terlalu muda untuk mulai menyisihkan utuk tujuan pensiun. Sehingga ia menundanya sampai usianya memasuki 40 tahun. Pada usia tersebut ia merasa sudah sepantasnya ia mulia mengumpulkan dana untuk tujuan pensiunnya. Andi memulai menyisihkan dana sebesar Rp2 juta setiap bulannya (dua kalilipat dari rencana Anita) sampai usianya memasuki 64 tahun. Andi masih memiliki waktu 24 tahun untuk mengembangkan asetnya. Pada saat usianya memasuki 64 tahun maka Andi akan memperoleh dana sekitar Rp3,3 miliar atau lebih kecil dari aset yang dimiliki Anita. Selisih hampir Rp4 miliar.

Besarnya selisih aset yang dimiliki Anita dan Andi dikarenakan oleh waktu yang dimiliki untuk berkembangnya nilai uang yang ada. Jadi kesimpulannya adalah semakin muda Anda saat memulai untuk menyisihkan dana untuk tujuan pensiun, semakin sedikit dana yang harus Anda alokasikan untuk jumlah target dana yang sama. Semakin panjang waktu yang dimiliki semakin besar potensi keuntungan dari konsep bunga-berbunga.

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali
Jangan Anda terhenti hanya karena takut untuk mengambil langkah pertama dalam menyiapkan dana keperluan saat pensiun Anda. Terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengembangkan dana alokasi Anda bila Anda telat dalam memulai untuk melakukan penyisihan dana untuk masa-masa pensiun Anda. Lebih baik Anda memiliki dana sedikit daripada tidak sama sekali. Bila Anda termasuk yang telat dalam memulai untuk menyiapkan dana untuk pensiun Anda, maka ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengejar ketinggalan, yaitu menambah besarnya alokasi dana setiap bulannya, ambil risiko yang lebih besar untuk mendapatkan bunga yang lebih besar atau menunda untuk mencairkan dana pensiun Anda selama yang dapat Anda lakukan.

Untuk dapat menjalani masa pensiun dengan nyaman dan tentram, mulailah menabung dan berinvestasi sekarang!!! Dan lakukan secara regular biarkan waktu yang bekerja untuk Anda.

Mengerahkan Segenap Kekuatan Untuk Menjadi Yang Terbaik

Andrie Wongso

Di dalam proses kehidupan kita sebagai manusia, lebih-lebih bagi kita yang hidup di masyarakat luas dan yang sedang berjuang keras dalam menciptakan kualitas kehidupan yang lebih baik, sering kali dalam berhubungan dengan orang lain,kita menemui baik atau buruk dari perlakuan orang lain terhadap diri kita,sebaliknya kita terhadap orang lain, atau kita terhadap diri kita sendiri dan mereka terhadap mereka sendiri. Sikap-sikap demikian adalah hal yang sangat wajar dan alamiah sekali yang dapat terjadi pada hubungan antar munusia bagi siapa saja, kapan dan dimanapun kita berada.

Namun bila kita sadar sebagai manusia yang mempunyai pikiran sehat, yang dapat membedakan sikap mana yang baik dan buruk , mana yang positif dan negatif, mana yang konstruktif, dan destruktif, sikap mana yang bisa menyinggung , menyakiti dan sikap mana yang bisa menyenangkan orang lain,mana yang perlu dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan terus menerus.

Sebagai manusia yang dapat mengerti, menyadari dan dapat berpikir jernih,jelas kita harus bisa memilih dan berani menentukan sikap, dengan segenap tenaga, waktu dan pikiran untuk tetap mengembangkan diri semaksimal yang dapat dilakukan dalam garis prinsip yang lebih baik dan positif.

Sepantasnya pula setiap saat untuk menyadari dan mengingatkan kita agar tetap tegar, berani, sabar dan ulet dalam menghadapi setiap problem, rintangan, kesulitan yang muncul, baik yang datang dari luar diri kita (external) , lebih-lebih yang datang dari dalam diri kita sendiri (internal). Kita harus mempunyai prinsip yang kuat dan mempunyai ketegasan terhadap diri sendiri.

Memang ini bukan hal yang mudah dilakukan, hanya lewat proses latihan demi latihan, belajar dan belajar yang ada dalam praktek kehidupan yang nyata. Lama kelamaan tentunya kita akan terbiasa untuk Tetap tegar menghadapi setiap kondisi yang menantang dan berupaya keras tetap Menjadi Yang Terbaik dalam situasi apapun.

Dengan demikian tidak hanya kita semakin dewasa dalam mengarungi kehidupan ini, yang pasti kualitas kehidupan kita akan semakin baik ,semakin sukses…sekaligus akan berpengaruh dan bermanfaat pula bagi orang lain.

Sekali lagi. Dengan segenap kekuatan . untuk menjadi yang terbaik

Salam Sukses Luar Biasa…!!

Cerdik dan Kreatif dalam Bisnis

Andrie Wongso

Salah satu hal yang bisa dipelajari dari Strategi Perang Sun Tzu adalah soal pemanfaatan siasat pengelabuan yang luar biasa cerdiknya. Dengan kreatifitas tertentu, seorang ahli strategi perang dapat memaksa pasukan lawan terkecoh dan mengacaukan strategi mereka. Bila ini terjadi, maka siapa yang lebih cerdik dan kreatif pasti memenangkan peperangan.

Nah, dalam dunia bisnis modern, strategi pengelabuan ini bekerja melalui prinsip-prinsip pengalihan perhatian secara halus untuk menarik perhatian target pasar. Di sini seorang perancang strategi pemasaran harus bisa menciptakan instrumen-instrumen tertentu dalam bentuk servis, nilai tambah, pencitraan, dan persepsi yang membuat target merasa dimudahkan, diuntungkan, atau meraih lebih banyak manfaat.

Ambil contoh mengenai dua produk makanan kecil dengan bahan dan rasa yang relatif sama. Produk yang satu dikemas ala kadarnya dengan akibat harganya harus murah dan konsumen membeli terutama karena pertimbangan murahnya harga. Sementara produk kedua dikemas dengan sentuhan yang lebih menarik, desain yang kreatif, serta ditopang iklan yang menghasilkan citra produk eksklusif.

Hasilnya? Kita bisa tebak, citra produk yang tinggi dan berkualitas akan mendominasi benak konsumen. Alhasil, konsumen tidak keberatan membayar harga lebih tinggi untuk produk yang sejatinya bahan maupun rasanya tidak jauh berbeda. Inilah kekuatan kecerdikan dan kreatifitas dalam bisnis.

Hal yang hampir sama juga bisa kita dapati dalam kasus pemasaran paket-paket produk yang ditempuh dengan cara menggabungkan beberapa item produk, kemudian dijual dengan harga yang lebih murah dibanding pembelian per satuannya. Di sini produsen merangkai satu produk tertentu yang eksklusif dengan produk-produk pelengkap lainnya, dan kemudian menetapkan harga yang tampaknya lebih murah.

Contoh: penjualan paket wisata kapal pesiar dengan berbagai kelengkapan fasilitas yang eksklusif. Konsumen rela membayar harga untuk paket wisata yang ditetapkan. Pada kenyataanya, mereka tidak memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan. Padahal, konsumen sudah membayar penuh harganya. Anehnya, mereka tidak terlalu merasa rugi dan merasa sudah cukup nyaman dengan mencicipi beberapa fasilitas yang diinginkannya.

Inilah penerapan strategi ‘pengelabuan’ yang kreatif. Konsumen tidak merasa dirugikan, tetapi justru merasa diuntungkan. Ini berbeda sekali dengan siasat pengelabuhan negatif, di mana kemasan yang menarik dipakai untuk membungkus produk bermutu rendah atau malah produk kadaluarsa.

Jika pengelabuah kreatif membuat konsumen puas dan loyal, maka pengelabuan negatif membuat konsumen kecewa, merasa ditipu, dan akhirnya pergi meninggalkan produk kita untuk selamanya.

Jika kita berorientasi pada bisnis jangka panjang, maka sudah pasti kita harus menggunakan siasat pengelabuan yang cerdas dan kreatif.
Salam Sukses Luar Biasa…!!

Bisnis Tanpa Modal, Mungkinkah?

V.P. Purnomo

“Buku Rich Dad Poor Dad karya Kiyosaki memang bagus. Namun, ada beberapa hal yang tidak mungkin dipraktekkan di Indonesia. Misalnya, tentang pembelian rumah tanpa mengeluarkan uang dari kantong sendiri sama sekali”, tulis teman saya dalam e-mailnya.

Siapapun pasti mengenal nama Robert T. Kiyosaki dan bukunya, Rich Dad Poor Dad. Bukunya yang laris terjual dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa itu seakan-akan menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin berwirausaha. Penulis sendiri mempunyai tiga buku dari sekitar 10 judul buku yang ditulis oleh Pak Kiyosaki ini.

Salah satu pelajaran dari buku tersebut adalah kemungkinan mempunyai usaha sendiri tanpa mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Kiyosaki mencontohkan dengan usaha propertinya, mulai dari penemuan rumah yang hendak dijual, biaya pengurusan yang didapat dari pinjaman atau calon pembeli sampai penutupan transaksi dan pengembalian pinjaman. Semuanya tampak begitu mudah dan menggiurkan.

Namun, seperti halnya memandang segala sesuatu yang tampak begitu mudah, kita menjadi bersikap skeptis dan mulai mempertanyakan, “Apa iya semudah itu ?”. “Pasti ada sesuatu yang belum diceritakan oleh Kiyosaki”, begitu mungkin pikiran kita. Benarkah ada yang disembunyikan oleh Kiyosaki ?.

Di kala pikiran penulis sedang diliputi pikiran untuk mendapatkan modal bagi usaha yang direncanakan oleh penulis, penulis mendapat undangan dari seorang teman yang kebetulan ingin tahu dan tertarik untuk ikut serta dalam usaha yang penulis tawarkan. Teman ini adalah salah seorang pemilik usaha jasa konsultasi bisnis yang cukup besar di Surabaya.

Setelah kita berbincang-bincang dan mempresentasikan usaha yang penulis rencanakan, teman tersebut menceritakan pengalamannya berbisnis ketika ia masih mahasiswa. Ia bercerita:

“Ketika saya mahasiswa, saya punya usaha dagang komputer. Awalnya, saya mendapat tawaran untuk pengadaan komputer sebanyak 100 komputer. Setelah saya buat kesepakatan dan berbekal uang 1 juta, saya langsung pergi ke toko komputer dan bilang pada pemilik tokonya : ‘Begini, Pak, saya ini punya usaha komputer dan omzet usaha saya ini adalah 100 komputer per bulan. Bapak bisa ndak menyediakan komputer sebanyak itu dengan harga yang murah. Dan saya minta pembayaran secara mundur’. Si pemilik toko setuju, kesepakatan terjadi dan 1 juta saya masih utuh. Dari transaksi ini, setidaknya saya untung 100 juta”.
Saya hanya mendengarnya sambil terngiang-ngiang dalam pikirannya saya dengan pelajaran Kiyosaki.

Berawal dari cerita teman saya itu, saya menemukan kisah-kisah lain yang seakan membenarkan pelajaran Kiyosaki.

“Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahma bin Auf, ketika berhijrah (pindah, red.) dari Makkah menuju ke Madinah, beliau tidak membawa bekal apapun. Seorang penduduk Madinah yang baik kemudian menawarkan sebidang kebun kurma untuk dikelola. Namun, Abdurrahman bin Auf menolaknya dan hanya meminta ditunjukkan jalan menuju ke pasar. Disanalah, Abdurrahman bin Auf berusaha dengan berjualan. Begitu sukses usahanya, sehingga ketika terjadi peperangan melawan kaum kafir, beliau menyedekahkan begitu banyak unta untuk tentara Muslim” (Malu Menjadi Benalu, KH. Abdullah Gymnastiar, 2003).

“Tidak ada yang pernah membahas bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah seorang wiraswastawan. Memulai dari penggembala kambing pada usia 8 tahun hingga menjadi pedagang yang melakukan perjalanan luar negerinya yang pertama pada usia 12 tahun, Nabi tumbuh menjadi pedagang yang sukses. Setelah melakukan 18 kali perjalan ke luar negeri, pada usia 25 tahun, beliau menikahi Siti Khadijah r.a. dengan mahar (maskawin, red.) 20 ekor unta muda. D Indonesia, rasanya tidak pernah ada yang memberi mahar sebesar itu”, (KH. Abdullah Gymnastiar, 2003)
Sebelumnya, penulis mohon maaf jika ada pembaca yang merasa seakan-akan penulis mengagungkan agama tertentu dengan kedua kisah itu. Penulis hanya menceritakan sebuah kisah yang moral story-nya cocok dengan tema yang kita bahas, dan kebetulan kedua kisah tersebut berhubungan dengan agama tertentu.

Sebenarnya, jika dirunut, ada banyak kisah serupa yang membuktikan pelajaran Kiyosaki itu. Purdie Chandra, bos Primagama, memulai usaha dengan modal 100 ribu rupiah. Andrie Wongso memulai usaha kartu ucapannya dari uang yang didapat dari mengajar kungfunya (Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah, Edy Zaqeus, 2004). Steve Jobs, CEO Apple, memulai usahanya dari garasi rumahnya tanpa modal sama sekali. Bill Gates memulai usahanya dari asrama dan kantor pertamanya adalah sebuah hotel murah tempat mesum (Pirates of Silicon Valley). Sederet nama dan kisah tidak akan cukup untuk ditulis di media ini.

Baiklah, kita percaya bahwa sangat mungkin untuk mempunyai usaha sendiri tanpa modal apapun. Dan boleh jadi, pendapat teman saya dalam e-mailnya adalah salah. Tapi, timbul dalam benak kita pertanyaan, “Dari mana memulainya ?”.
Si Ayah Kaya Kiyosaki mengajarkan bahwa “pikiranlah yang menjadikan seonggok batu menjadi sebongkah emas”. Artinya, dengan hanya berpikir, Anda dapat mengubah berbagai peluang yang melintas didepan Anda – entah itu peluang bagus atau jelek – menjadi sebuah potensi yang menguntungkan. Jadi, jika Anda ingin mempunyai sebuah usaha tanpa mengeluarkan modal, berpikirlah !.



Artikel ini saya tutup dengan sebuah pesan dari Bob Sadino berpesan, “Sebagian besar orang berpikir bahwa yang namanya modal itu pasti uang. Padahal, modal bentuknya bisa macam-macam. Kaki, tangan, dan pikiran pun bisa menjadi modal”.

Survive di Dunia Bisnis

Andrie Wongso

Filosofi Sun Tzu menyatakan, supaya survive, seorang penguasa harus menang dalam setiap pertempuran. Ini demi memenangkan peperangan. Kalau tidak menang perang berarti binasa. Tidak survive!

Hal yang sama juga berlaku dalam organisasi perusahaan atau dunia bisnis. Di tengah-tengah persaingan bisnis yang semakin keras dewasa ini, organisasi perusahaan harus memiliki strategi sehandal strategi perang Sun Tzu. Jika tidak, perusahaan akan dilindas pesaing. Semakin melemah, kehilangan daya saing, ditinggalkan konsumen, merugi. Dan akhirnya mengalami suatu kondisi yang paling ditakutkan, yaitu kebangkrutan!

Bagaimana berperang dalam dunia bisnis pada abad informasi ini? Pertama, adu strategi demi meriah posisi terdepan dalam bisnis. Jika mengaplikasikan strategi Sun Tzu, maka kuasailah informasi dan miliki peta persaingan yang akurat. Kuasai medan pertempuran atau kondisi pasar. Miliki leadership dan kekuatan moral untuk menggerakkan segenap sumber daya perusahaan. Dan bangun sebuah organisasi perusahaan yang solid, adaptif, disiplinnya tinggi, dan memiliki budaya kerja yang unggul.
Dalam dunia bisnis, kita pun harus berperang demi mengalahkan lawan. Caranya, adu kreatifitas. Adu inovasi. Di zaman yang cepat berubah dan serba instan ini, kreatifitas dan inovasi, disertai dengan disiplin yang tinggi merupakan keunggulan utama dalam persaingan. Hari ini kita keluarkan produk baru. Esok hari pesaing muncul dengan produk yang hampir sama dan mengancam bisnis kita. Bahkan bisa-bisa produk kita dijiplak habis-habisan.

Jika kita berhenti selangkah, maka pesaing akan maju dua langkah dan siap menikam bisnis kita. Bertahan atau dalam pengertian berhenti kreatif dan inovatif, bukan merupakan strategi yang tepat dalam peperangan. Menyerang adalah pertahanan terbaik. Ini berarti perusahaan maju menyerang dengan berbekal kemajuan teknologi. Berbekal inovasi-inovasi terbaru untuk menggarap peluang dan menguasai pasar.
Namun, sebuah organisasi bisnis tidak bisa proaktif atau bergerak progresif jika unsur pembentuknya, yaitu manusianya, gagal menggerakkan organisasi tersebut. Ini berangkat dari asumsi dasar, manusialah yang menggerakkan organisasi perusahaan. Dan ini berarti, perusahaan harus memiliki sumber daya manusia yang memiliki kekayaan mental.

Apa saja kekayaan mental yang sangat penting bagi eksistensi organisasi perusahaan? Mental pembelajar, dalam arti manusia yang siap belajar, siap memperbaiki diri.
Mau terus mengasah ketrampilan dan selalu memperbaharui diri.
Bersikap terbuka pada perubahan dan mampu mengolah tantangan perubahan menjadi peluang dan keunggulan perusahaan.

Mental kreatif, inovatif, dan aktif dalam mencari terobosan-terobosan baru demi kemajuan.

Memiliki disiplin dan profesionalisme yang tinggi dalam bekerja.
Memiliki sikap positif terhadap relasi antar sesama, demi meningkatkan jaringan atau network.

Berorientasi pada pencapaian hasil-hasil maksimal bagi perusahaan. Dan masih banyak lagi.

Itulah kekayaan mental yang utama. Jika organisasi perusahaan memiliki sumber daya manusia yang kaya secara mental, gerak organisasi akan lebih cepat. Budaya organisasi akan terus tumbuh dalam gerak yang begitu dinamis. Akan terus terjadi pembaharuan demi pembaharuan. Inovasi tiada henti dengan ritme dan spirit kerja yang sangat tinggi. Fleksibel dan mudah beradaptasi dengan situasi pasar yang terus berubah. Organisasi bisnis siap didorong atau dipacu untuk maju lebih cepat lagi.

Organisasi bisnis yang solid seperti ini mampu maju perang saat lawan memilih tiarap. Mampu melihat peluang-peluang yang tidak dilihat pesaingnya. Dan biasanya, dengan kesiapan strategi yang brilian, organisasi bisnis ini tidak saja mampu survive. Tetapi bahkan mampu menguasai pasar dengan keuntungan yang besar. Mirip sebuah kemenangan besar dalam peperangan kaisar-kaisar Tiongkok zaman dahulu.

Pertanyaanya sekarang, apakah bisnis Anda hendak melakukan ekspansi besar-besaran?
Apakah bisnis Anda menginginkan lompatan dalam meraih keuntungan?
Apakah organisasi perusahaan Anda sudah siap berperang?
Jika semua jawabannya ya, jangan lupa! Benahi mental sumber daya manusianya! Mulai sekarang juga!

Salam Sukses Luar Biasa…!!

Mengukur Bakat Kewirausahaan

Andreas Harefa

Bahwa setiap orang berpotensi menjadi wirausaha tidak berarti hal itu akan terjadi dengan sendirinya. Setiap orang harus membuat keputusan untuk menjadi apapun yang dicita-citakannya sesuai pengenalan terhadap bakat, talenta dan potensi dirinya masing-masing.

Apakah Anda berpotensi untuk menjadi wirausaha handal? Saya tidak tahu. Tetapi bila Anda bertanya-tanya apakah Anda dapat mengetahui seberapa jauh Anda berpotensi, mampu atau berbakat untuk menjadi wirausaha handal, maka cobalah menjawab sejumlah pertanyaan berikut:

• Apakah Anda lebih suka bekerja dengan para ahli untuk mengejar prestasi?
• Apakah Anda tidak takut mengambil risiko, tetapi akan berusaha berusaha menghindari risiko tinggi bila dimungkinkan?
• Apakah Anda cepat mengenali dan memecahkan masalah yang dapat menghalangi kemampuan Anda untuk mencapai tujuan?
• Apakah Anda tidak akan mengijinkan kebutuhan akan status mengganggu misi bisnis Anda?
• Apakah Anda rela berkorban dan bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang untuk membangun bisnis Anda?
• Apakah Anda memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mencapai keberhasilan?
• Apakah Anda tidak membolehkan hubungan emosional mengganggu bisnis Anda?
• Apakah Anda menganggap struktur organisasi sebagai satu halangan untuk mencapai sasaran yang Anda inginkan?

Jika semua pertanyaan itu Anda jawab dengan "Ya", maka Anda memiliki profil seorang wirausaha sejati. Paling tidak demikianlah menurut David E. Rye, pakar kewirausahaan yang mengajarkan hal itu di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Tetapi memiliki profil wirausaha belum berarti Anda akan sukses berwirausaha. Sebab sukses sebagai wirausaha itu ditentukan oleh sejumlah ciri-ciri lainnya.

Cobalah mengidentifikasi apakah Anda memiliki ciri-ciri sukses yang menonjol untuk menjadi wirausaha handal dengan menanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut :

• Apakah saya ingin mengendalikan semua hal yang saya lakukan?
• Apakah saya menyukai aktivitas yang menunjukkan kemajuan yang berorientasi pada tujuan?
• Apakah saya mampu memotivasi diri sendiri dengan suatu hasrat yang tinggi untuk berhasil?
• Apakah saya cepat memahami rincian tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai sasaran yang saya tetapkan?
• Apakah saya akan menganalisis semua pilihan yang tersedia untuk memastikan keberhasilannya dan meminimalisasi risikonya?
• Apakah saya mengenali pentingnya hidup pribadi saya dalam hubungannya dengan usaha yang saya tekuni?
• Apakah saya selalu mencari suatu cara yang lebih baik untuk melakukan suatu pekerjaan?
• Apakah saya selalu melihat pilihan-pilihan yang tersedia untuk mengatasi setiap masalah yang mungkin menghadang?
• Apakah saya tidak takut mengakui kesalahan bila ternyata saya memang keliru?

Bila semua pertanyaan di atas Anda jawab dengan "Ya", maka makin jelaslah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi untuk menyempurnakan keyakinan Anda, cobalah menjawab kembali pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

• Sukakah Anda bertanggung jawab terhadap situasi tertentu dan mengambil keputusan sendiri?
• Apakah Anda menikmati persaingan dalam suatu lingkungan bisnis yang kompetitif?
• Apakah Anda secara individual mampu mengarahkan diri sendiri dengan disiplin diri yang kuat?
• Sukakah Anda merencanakan masa depan dan secara konsisten berusaha mencapai tujuan atau sasaran pribadi Anda?
• Apakah Anda cukup mampu memanajemeni waktu dan sering menyelesaikan tugas-tugas secara tepat waktu?
• Jika Anda mulai berwirausaha, siapkah Anda untuk menurunkan standar hidup sampai usaha Anda menghasilkan pemasukan yang cukup kokoh?
• Apakah kesehatan Anda cukup baik dan apakah stamina fisik Anda cukup kuat untuk bekerja dalam rentang waktu yang panjang?
• Dapatkah Anda mengakui bila melakukan kekeliruan dan menerima nasehat dari orang lain?
• Jika bisnis Anda gagal, siapkah Anda untuk kehilangan semua kekayaan?
• Apakah Anda memiliki kestabilan untuk bekerja dalam tekanan dan penuh ketegangan?
• Dapatkah Anda dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan dan melaksanakan perubahan bila diperlukan?
• Apakah Anda seorang yang berinisiatif untuk memulai dan bekerja sendiri tanpa bergantung pada orang lain (self-starter)?
• Dapatkah Anda mengambil keputusan dengan cepat dan tidak menyesali keputusan buruk yang mungkin Anda ambil?
• Apakah Anda mempercayai orang lain dan apakah mereka juga mempercayai Anda?
• Apakah Anda dapat memahami bagaimana memecahkan masalah dengan cepat, efektif, dan dengan penuh keyakinan?
• Dapatkah Anda mempertahankan suatu sikap yang positif meskipun dalam menghadapi kemalangan?

Apakah Anda seorang komunikator yang baik dan dapatkah Anda menjelaskan ide-ide Anda dalam kata-kata yang dapat dipahami orang lain?
Jika semua pertanyaan itu lagi-lagi Anda jawab dengan "ya", maka sekali lagi menurut David Rye, sempurnalah potensi kewirausahaan dalam diri Anda. Tetapi bila dari 17 pertanyaan terakhir 4 atau lebih Anda jawab dengan "Tidak", maka sebaiknya Anda kembali memikirkan niat Anda untuk menjadi wirausaha.

Saya percaya bahwa teknik berdialog dengan diri sendiri dengan menggunakan berbagai pertanyaan seperti di atas sangat berguna untuk lebih mengenali potensi diri seseorang. Apalagi bila hal itu disusun berdasarkan suatu pengalaman dan diperkaya dengan studi atau penelitian khusus dengan metode yang ketat.

Masalahnya, saya juga percaya bahwa sebagian orang cenderung menilai dirinya secara tidak proporsional. Ia bisa menilai dirinya serba mampu, serba baik, dan serba hebat (superior), atau justru serba tidak mampu dan banyak kelemahan (inferior). Belum lagi kenyataan yang menunjukkan bahwa potensi setiap orang itu dapat berkembang dari waktu ke waktu. Lewat proses belajar secara berkesinambungan orang dapat meningkatkan kualitas pribadinya dan mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidupnya.

Karenanya, apa pun jawaban yang Anda berikan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, ijinkan saya untuk menyederhanakan semua itu menjadi satu saja, yakni : apakah Anda benar-benar ingin berwirausaha, sekalipun belum tentu Anda akan berhasil dan sekalipun Anda harus bekerja keras menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, serta sekalipun Anda harus selalu berusaha untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan yang bertubi-tubi? Jika Anda menjawab "Ya" terhadap pertanyaan tunggal ini, maka tak perlu ragu untuk mencobanya. Sebab hal itu berarti Anda telah membuat sebuah keputusan yang penting bagi masa depan Anda sendiri. Dan untuk menciptakan masa depan Anda sendiri, setidaknya hal ini disarankan oleh Michael Dell, adakalanya Anda tidak perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan tidak mampu Anda lakukan. Just do it (lakukan saja). Jangan biarkan orang lain mendikte hidup Anda. Cobalah mengecap suatu kenikmatan khusus untuk melakukan apa yang justru dianggap orang tidak mampu Anda lakukan.

Selanjutnya, agar keputusan itu tidak menjadi sesuatu yang konyol, maka yang perlu Anda lakukan adalah menemukan jawaban terhadap pertanyaan berikut ini : bagaimana saya dapat memilih bidang usaha yang memungkinkan saya untuk berhasil? Itulah yang nanti akan kita bicarakan.

Kalau Ingin Kaya, Ngapain Sekolah..??

Purdi E. Chandra


Untuk menjadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E. Chandra, Direktur Utama Yayasan Primagama. Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses. “Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ ini.

Purdi memang jadi model wirausahawan ‘jalanan’ plus modal nekad. Ia tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama pada 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. Ia sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 167 cabang di lebih dari 106 kota. Ia dirikan IMKI, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta. Grup Primagama pun merambah bidang radio, penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semuanya diawalkan dari keberanian mengambil risiko.

Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang. Wawancara berikut ini pernah dimuat di majalah Berwirausaha (II/8 Mei/02) dan merupakan bagian dari buku laris manis berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah!. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor Primagama di Jakarta:

Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?
Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.

Apakah pendidikan kita sangat bermasalah?

Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart. Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.

Apa itu?
Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan…ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%. Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya. Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:red), malah ndak ada hasilnya… walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu!

Apa artinya street smart?
Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.” Kok tidak yang menjual sayur saja? Kok, kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.

Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?
Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.

Setuju dengan pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school”?
Kalau saya if you want to be rich and happy, ya.... kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari menterinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha. Penelitian di Harvard begitu.

Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan. Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar. Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.

Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?

Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan. Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadinya.

Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?
Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang. Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?

Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?
Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.

Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‘Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!’. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel. Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual beli handphone. Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ndak mungkin, kan? Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.

Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?
Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi.

Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya. Misal dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah…ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp100 milyar, kan? Rasionalnya di mana?

Tadi ada seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, “jangan dihitung terus!” Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.

Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…
Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.

Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?
EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombok pun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.

Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?
Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise.

Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?
Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.

Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?
Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa….Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi. Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif.